Menelisik Makna di Balik Tradisi Gudangan: Simbol Doa dan Kebersamaan di Banjarwaru
- Apr 06, 2026
- MOHAMMAD SYARIFUDDIN AL MUBAROK, ST., SH.
Banjarwaru – Masyarakat Jawa dikenal memiliki segudang tradisi yang sarat akan makna filosofis, salah satunya adalah Gudangan. Di Desa Banjarwaru, Lumajang, tradisi ini tetap terjaga kelestariannya sebagai bagian penting dalam upacara adat maupun peringatan keagamaan, termasuk dalam momen slamatan untuk mendoakan sanak keluarga yang telah berpulang.
Secara harfiah, Gudangan merujuk pada sajian nasi yang dilengkapi dengan berbagai macam sayuran rebus yang dicampur dengan parutan kelapa berbumbu pedas manis (urap). Namun, bagi warga Lumajang, Gudangan bukan sekadar makanan biasa.
Dalam konteks slamatan orang meninggal, sajian ini melambangkan simbol kesederhanaan, rasa syukur, dan permohonan ampunan bagi almarhum/almarhumah.
Sayur-sayuran yang digunakan dalam Gudangan biasanya terdiri dari berbagai jenis, seperti:
Kacang Panjang: Melambangkan harapan untuk umur yang berkah atau amal yang tak terputus.
Kangkung & Bayam: Melambangkan ketenangan dan kerukunan.
Tauge & Kelapa: Simbol kesuburan dan manfaat hidup bagi orang lain.
Semua bahan ini dicampur menjadi satu, menggambarkan semangat gotong royong dan penyatuan doa dari tetangga serta kerabat yang hadir dalam acara slamatan tersebut.
KIM BANJARWARU
Kesekretariat : Jl Monumen Kyai Ilyas Desa Banjarwaru, Kec. Lumajang , Kab.Lumajang
“Inspirasi untuk Perubahan Lebih Baik”